Arsitektur di Indonesia sangat beragam, mulai dari arsitektur tradisional sampai kepada arsitektur kontemporer. Perlahan namun pasti, arsitektur tradisional berubah baik dari tatanan maupun bentuknya karena kebutuhan dan aktivitas masyarakat berubah seiring dengan perkembangan jaman. Pengaruh yang signifikan terhadap perkembangan arsitektur Indonesia adalah modernisasi dan perkembangan teknologi. Selain itu, anggapan arsitektur tradisional yang kuno menyebabkan masyarakat sedikit demi sedikit meninggalkan arsitektur tradisional dan lebih memilih untuk tinggal pada bangunan yang modern. Hal ini tidak terlepas dari kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai nilai-nilai yang terdapat arsitektur tradisional indonesia.

 

Arsitektur tradisional dapat dikatakan merupakan identitas Indonesia yang tersebar di bentang kawasan Nusantara. Arsitektur ini dihasilkan dari kebudayaan yang terbentuk dari dialog antara manusia dan alam selama beribu-ribu tahun, yang pada akhirnya menjadi aturan dan kesepakatan yang dipegang dan dipelihara dari generasi ke generasi ini. Kebudayaan dan karakteristik daerah yang berbeda-beda di setiap daerah sangat berpengaruh terhadap arsitektur rumah adat, baik itu secara bentuk, ruang maupun tatanannya. Keragaman arsitektur tradisional ini sebenarnya menjadi sumber ilmu pengetahuan yang tiada habis-habisnya.

 

Kurangnya eksplorasi dan publikasi yang merata menjadikan sebagian besar dari kita mungkin lebih mengenal arsitektur Indonesia hanya sebatas rumah tradisional Minang, Bali, Sunda, Jawa, Batak, dan Papua. Padahal masih banyak daerah-daerah lain di Indonesia yang memiliki arsitekur yang menarik untuk di ketahui. Mengingat pentingnya arsitektur tradisional bagi Indonesia, Arsitektur Hijau sebagai wadah minat mahasiswa program studi arsitektur yang memiliki perhatian terhadap arsitektur vernakular di kawasan Nusantara kemudian tergerak untuk melakukan penelitian, perekaman data/ pendokumentasian kampung-kampung adat yang ada di Indonesia sebelum bangunan-bangunan tradisional warisan nenek moyang menghilang tanpa jejak. Kegiatan penelitian dan perekaman data ini sudah dilakukan sejak 1985

Pada kesempatan kali ini, buku ini menelaah rumah adat Timor yang masih dilestarikan hingga saat ini. Telaah arsitektur Timor dalam tulisan ini memperlihatkan sisi menarik dari arsitektur Timor ini melalui pembahasan mengenai budaya, tatanan, dan tektonika dari ketiga kampung (Kampung Uarau, Kampung Kamanas, dan Kampung Fohoterin) yang di kunjungi oleh tim Ekspedisi Timor 2015.  Pembahasan dilakukan  dengan metode mendeskripsikan kampung berdasarkan pengalaman- pengalaman dari masing-masing anggota Ekspedisi Timor 2016 yang di kemas menjadi sebuah cerita-cerita kampung.

Banyak Hal baru yang bisa kita temukan di dalam buku ini, dengan mempelajari budaya asli suku-suku di dalam ke tiga kampung ini. Serupa tapi tidak sama, masing masing kampung memiliki cara hidup yang berbeda, cerita nenek moyang yang berbeda, dan ritual-ritual adat yang berbeda juga. Tiap kampung memiliki ciri khasnya masing-masing walaupun masih berada dalam satu pulau besar yaitu pulau timor. Perbedaan budaya dari masing-masing kampung dapat dicerminkan dari bentuk fisik kampung yang berbeda juga, pada bab ke 2 buku Ekspedisi Timor ini  diceritakan bagaimana budaya dari masing-masing suku membentuk  kampung mereka dengan ciri khasnya masing-masing, dimana ruang-uang kampung menceritakan pola aktivitas dari masing-masing suku. Hal yang menarik juga untuk di bahas dalam buki ini adalah tektonika dari rumah-rumah adat yang ada di tiap-tiap kampung, karena walaupun bentuk bangunan yang ada dari tiap-tiap kampung sekilas memiliki kemiripan tetapi dalam cara teknik konstruksi, material, dan tatacara membangun rumah adat memiliki keunikan masing masing,

(1 set berisi 3 buku)

Klik disini untuk pembelian: 

https://arsitekturhijau.hubton.com/gerai/