Tourism Planning Forum: Tourism Design and Prototype Conference atau yang biasa disingkat dengan TPF-TDPC merupakan sebuah konferensi yang digelar oleh Kementrian Pariwisata RI dalam rangka mendukung pembangunan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. Konferensi ini diselenggarakan pada tanggal 8—9 November 2017, di Hotel Grand Inna, Sanur, Pulau Bali.

Dalam konferensi ini, Arsitektur Hijau hadir sebagai salah satu kontributor bersama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) dalam sesi ‘Best Practice’ menurut segi ke-pariwisata-an Indonesia.  Turut hadir pula para praktisi, akademisi, dan unsur Kementerian/Lembaga dari Pusat pakar pariwisata, perencana, designer, ahli landscape dan budayawan untuk membahas isu-isu pariwisata dan permasalahannya.

Dalam presentasinya, Radhian Dwiadhyasa, selaku Ketua Arsitektur Hijau periode 2017/2018,  menjelaskan bahwa lahirnya organisasi Arsitektur Hijau pada 32 tahun lalu merupakan buah semangat dan keingintahuan dari para sekelompok mahasiswa yang mempertanyakan tentang keanekaragaman rumah-rumah adat di Negeri-nya ini. Kehadiran para tamu undangan pada konferensi ini pun, tidak lain karena adanya semangat untuk memajukan Indonesia menuju yang lebih baik.

Diakhiri dengan sebuah pernyataan sederhana, bahwa Kampung Adat akan selalu memiliki hukum adat sebagai hukum tertinggi, maka saat orang asing datang dan tidak bisa menghormati hukum adat yang berlaku disana, ganjaran yang didapat pun akan sama.

Menjadi pengingat bagi kita semua juga Kementrian Pariwisata yang dikhawatirkan, kerap,  melupakan dampak jauh dari pengembangan wilayah juga tumbuhnya laju perekonomian suatu kampung adat.

Kampung adat adalah ciri dari kekayaan dan keanekaragaman budaya lokal Indonesia yang harus dilindungi, pendokumentasian rutin ke kampung adat setiap tahunnya, menjadi konsistensi Arsitektur Hijau dalam upaya konservativ kampung-kampung adat di Indonesia.

Arsitektur Hijau, dengan semangat menjelajahnya yang diharapkan terus mengalir pada setiap diri anggotanya, percaya bahwa perkembangan kecil yang berkelanjutan lebih baik dibandingkan sebuah penyempurnaan yang tertunda.

 

Demi Ilmu dan Masyarakat!

Dokumentasi oleh : Danu Izra M.