Open House Virtual

Arsitektur Hijau

Mari Menjelajah!

Scroll ke Bawah untuk Memulai Perjalananmu!

Sebelumnya,

Apakah kamu mengetahui tentang Arsitektur Vernakular di Nusantara?

merupakan gaya arsitektur yang tumbuh dan berkembang dari arsitektur rakyat yang lahir dari masyarakat etnik dan berakar pada tradisi etnik. Gaya arsitektur ini dirancang berdasarkan kebutuhan lokal, ketersediaan material, dan mencerminkan tradisi lokal.

Kemudian,

Sudahkah Kamu Mengenal Arsitektur Hijau?

adalah sebuah organisasi wadah minat yang berkedudukan di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, bernaung di dalam Himpunan Mahasiswa Program Studi Arsitektur. Organisasi wadah minat ini resmi didirikan pada tanggal 24 November 1985.

Terbentuknya ini didorong dengan adanya minat dari sekelompok mahasiswa terhadap arsitektur vernakular Indonesia. Adapun visi dari organisasi ini adalah untuk menjadi wadah pelestarian budaya nusantara dengan pendokumentasian dan pengembangan arsitektur vernakular

Arsitektur Hijau Telah Melakukan Berbagai Ekspedisi Setiap Tahunnya

Sejak Didirikan,

Enggelam merupakan sebuah kampung yang memanfaatkan sungai sebagai mata pencaharian utama, sarana dan prasarana untuk aspek kehidupan penduduknya dan sungai ini juga mempengaruhi arsitektur di desa ini. 
Pola tatanan massa di desa ini adalah Linier yang disebabkan oleh bangunan mengikuti bentuk sungai untuk kemudahan transportasi.

Desa Enggelam memiliki dua jenis rumah berdasarkan struktur pondasinya yaitu rumah panggung dengan pondasi tiang pancang dan rumah rakit dengan pondasi drum-drum plastik sehingga dapat mengapung di atas sungai.

Kampung Nage, dan kampung – kampung yang ada disekitarnya dipercaya merupakan ‘ anak ‘ dari dua gunung yang mengapit kampung – kampung tersebut; yaitu Gunung Inerie ( Ine = mama; Suru = Gunung; Laki = lelaki ) dan Gunung Surulaki. 

Konon, Inerie dan Surulaki adalah sepasang suami istri. Suatu hari mereka bertengkar, saat itu Surulaki menampar Inerie hingga kondenya terlempar ( membentuk sebuah gunung kecil yang sekarang ada di isebelah Gunung Inerie ). Sedangkan Inerie membalas dengan memukul piring Surulaki hingga isinya tercecer. Isi piring Surulaki yang tercecer itulah yang kini dipercaya sebagai kampung – kampung yang ada di sekitar daerah itu.

Kampung ini dulunya menganut budaya megalitik, hal ini dapat dibuktikan dengan peninggalan berupa megalit (dikenal juga sebagai ‘Nabe’) yang digunakan sebagai sarana pemujaan sebelum masyarakat sekitar mengenal agama

Seluruh penduduk kampung menganut Agama Katolik. Kampung ini dilengkapi dengan fasilitas kapel, Gua Maria, dan Gereja Jerebu’u.

Tamkesi merupakan oase kehidupan di tengah sabana kering di Tanah Timor. Peninggalan kebudayaan Tamkesi merupakan salah satu bukti peradaban maju Timor pada masanya
Pada awalnya masyarakat ini merupakan komunitas nomaden, berpindah-pindah dari sekitar pantai Oepuah dan akhirnya menetap di daerah Gunung Kembar Tapenpah dan Oepuah
 Di kampung ini, timbangan keramat besi tnais menemukan titik imbangnya dan dianggap pusat bumi oleh masyarakat setempat. Karena itulah, lokasi ini dinamakan Tamkesi. Umumnya orientasi arah atap mengarah pada timur-barat. Timur menjadi arah yang penting dalam masyarakat Biboki dan dimaknai sebagai tanda rahmat yang berlimpah dari Allah.

Nama Tau Taa Wana sendiri memiliki arti “orang hutan”, yang menjelaskan tentang gaya hidup mereka yang semi-nomaden, serta kemudahan mereka untuk meninggalkan tempat tinggal mereka saat kondisi-kondisi tertentu. Permukiman mereka terdapat dua jenis, pertama Lipu yang berarti desa/kampung, dan juga Navu yang berarti rumah ladang. 

Masyarakat setempat memiliki sistem tata guna lahan, dimana padi, sebagai sumber pangan utama mereka, ditanam pada lahan yang telah diatur penggunaannya. Setelah panen, mereka berpindah lahan untuk menjaga kesuburan hutan adat mereka. Ladang yang telah dipakai dibiarkan hingga bertumbuh menjadi hutan muda yang beberapa tahun kemudian akan dipakai kembali sebagai ladang.

Perebutan tanah dianggap pamali, dan diatur dalam hukum adat yang disebut “Givu”. Masyarakat Wana memiliki ‘Givu’, aturan adat yang mengatur norma dan perilaku dalam lingkungan sosial. Dahulu, pelanggaran dilakukan dengan membayar denda dalam bentuk baju, piring batu dan gelas, namun sekarang warga membayar dengan uang.

Masyarakat Rampa Kapis terdiri dari beberapa suku-suku yang beragam, yaitu suku Bajau, suku Bugis, dan suku Jawa. Kebanyakan penduduknya berprofesi sebagai nelayan, menghabiskan banyak waktu mereka di atas sampan. Karena itu masyarakat Rampa Kapis juga dikenal sebagai ahli membuat sampan. 

Berlimpahnya hasil laut di Rampa Kapis itu menarik perhatian suku-suku lain untuk tinggal dan mencari nafkah di Rampa Kapis.  Hal ini memicu terjadinya peleburan budaya.

“Kami, suku Bajau, harus hidup dekat dengan air asin. Jika kami tinggal di daratan, kami bisa mati.”

demi ilmu dan masyarakat memberi diri
semua indera merekam jawaban
dari semua tanya tentang mereka

diangkat tinggi dari tanah,
kaki-kakinya jenjang bagai enggrang,
bukan tanpa alasan,
mahkotanya tinggi walau hanya jerami,
dari angin dan rintik manusia terlindungi
jangan remehkan badannya
walau hanya kayu, tulang-tulangnya perkasa

demi ilmu dan masyarakat memberi diri
semua indera merekam jawaban
dari rasa penasaran kami tentang mereka

dari mata tercipta gurat
gurat tertuang dalam lembaran
lembaran diceritakan kepada banyak telinga
demikian apa yang mereka ceritakan,
kami ceritakan pada kalian

mereka sudah menunggu untuk disapa
menunggu penjelajah memperkenalkannya pada dunia
turun temurun ilmu pendiri,
jangan hanya sampai Pramusesa kemudian berhenti
salam, salam, silahkan masuk
dari prajurit senja yang menanti datangnya pagi yang merah



QR CODE

Mari Bergabung Bersama Kami !

Klik untuk mendaftar

Cari tahu lebih lanjut tentang Arsitektur Hijau

Kunjungi pameran terbaru kami

Ditunggu Kehadirannya !